.jpeg&w=3840&q=90)
.jpeg&w=3840&q=90)
.jpeg&w=3840&q=90)
.jpeg&w=3840&q=90)
.jpeg&w=3840&q=90)
NUSANTARA - Di tengah pembangunan fisik yang terus berlangsung, Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menghadapi tantangan lain yang tak kalah penting: menyiapkan sumber daya manusia yang sehat dan berdaya saing untuk masa depan ibu kota baru Indonesia.
Tantangan dan permasalahan stunting masih menjadi perhatian. Otorita IKN mencatat prevalensi stunting di wilayah IKN masih berada di kisaran 18 persen. Karena itu, berbagai upaya pencegahan terus dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, Puskesmas, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), serta kader Posyandu sebagai ujung tombak pendampingan masyarakat.
Direktur Pelayanan Dasar Otorita IKN Suwito mengatakan, pembangunan sumber daya manusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan ibu kota baru.
"Yang terlihat saat ini memang pembangunan fisik. Namun, IKN juga sedang membangun aspek nonfisik, yaitu menyiapkan sumber daya manusia yang akan menjadi generasi penerus pembangunan," kata Suwito di Puskesmas Maridan, pada Jumat (12/06/2026).
Menurut Suwito, penanganan stunting di IKN dilakukan melalui pendekatan dari hulu hingga hilir. Program yang dijalankan mencakup edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja, pemberian tablet tambah darah kepada calon pengantin dan wanita usia subur (WUS), pendampingan keluarga, hingga peningkatan kapasitas kader Posyandu dan tenaga kesehatan.
Strategi tersebut berangkat dari pemahaman bahwa stunting tidak hanya dipengaruhi oleh pemenuhan gizi, tetapi juga kesehatan reproduksi, pola pengasuhan, serta kondisi lingkungan keluarga. Karena itu, intervensi dilakukan sejak sebelum kehamilan terjadi agar risiko stunting dapat dicegah sedini mungkin.
Di wilayah IKN, pendekatan tersebut menjadi penting karena kawasan ini diproyeksikan sebagai tempat tumbuhnya generasi yang akan mengisi berbagai profesi dan kebutuhan pembangunan hingga puluhan tahun mendatang. Kualitas sumber daya manusia yang lahir hari ini akan menentukan daya saing IKN pada masa depan.
Karena itu, Otorita IKN menempatkan pencegahan sebagai strategi utama. Target yang ingin dicapai bukan hanya menurunkan angka stunting yang ada saat ini, tetapi juga mencegah munculnya kasus-kasus baru.
"Ke depan tidak boleh lagi ada kelahiran stunting di IKN. Ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi yang akan melanjutkan pembangunan ibu kota negara," ujar Suwito.
Upaya tersebut diperkuat melalui pelatihan kader Posyandu di wilayah delineasi IKN. Dalam kegiatan itu, kader memperoleh pembekalan dari BKKBN mengenai pengelolaan keluarga sehat serta dari dokter spesialis yang tergabung dalam POGI mengenai kesehatan reproduksi dan kehamilan sehat.
Kepala Puskesmas Maridan Basiran menilai keterlibatan Otorita IKN membantu memperluas jangkauan edukasi dan pendampingan kepada masyarakat. Menurut dia, penguatan kapasitas kader Posyandu menjadi investasi penting karena para kader merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan keluarga di tingkat akar rumput.
Sementara itu, Seminawati, kader Posyandu Maridan, mengaku pelatihan tersebut memberikan tambahan wawasan yang dapat diterapkan saat mendampingi masyarakat.
"Harapannya kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan supaya angka stunting di IKN semakin menurun," katanya.
Bagi Otorita IKN, keberhasilan pembangunan ibu kota baru kelak tidak hanya diukur dari berdirinya gedung-gedung pemerintahan atau infrastruktur modern. Keberhasilan itu juga ditentukan oleh lahirnya generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Dari ruang-ruang Posyandu di desa-desa sekitar IKN, fondasi sumber daya manusia masa depan Nusantara tengah dibangun.
(Jumat, 12 Juni 2026)
Dokumentasi Foto
Sumber: Humas Otorita Ibu Kota Nusantara

.jpeg&w=3840&q=90)



